7 Kegagalanku Selama Bekerja Untuk Traveloka

Tak sedikit yang anggap tulisanku soal alasan berhenti kerja di Traveloka, sebagai artikel clickbait. Bahkan ada yang bilang aku lebih menekankan achievement ketimbang alasannya. Bagaimana menurutmu?

Belajar respon yang kuterima, terangkum beberapa perilaku pembaca terhadap artikel bertajuk “alasan berhenti kerja”:

  • Variabel perusahaan lebih menarik ketimbang subjek cerita.
  • Tidak tertarik pada unsur drama.
  • Cenderung tidak membaca menyeluruh (skipping).

Sebagai penyeimbang artikel “kesuksesan” tersebut, lewat tulisan ini aku merangkum daftar kegagalan saat kerja di Traveloka. Banyak kesalahan yang aku perbuat selama kerja di Traveloka, tetapi setidaknya 7 poin ini yang berdampak besar terhadap caraku berpikir dan berperilaku saat ini:

 

1. Gagal menerjemahkan ekspektasi mentor

Di awal-awal tahun pertama bekerja sebagai penulis Traveloka, hampir setiap bulan aku melakukan 1-on-1 dengan mentor.

Salah satu momen yang kuingat ketika beliau begitu antusias menceritakan artikel yang dibacanya semalam. Artikel tersebut menjelaskan bahwa kecerdasan bukanlah hasil genetika dan dapat dibentuk. Masih kuingat jelas raut wajahnya terheran, mungkin karena respon datarku yang tidak sesuai harapannya.

Beliau juga menjelaskan harapannya kepadaku dengan menggambar kurva eksponensial. Aku tahu definisi kurva tersebut, tetapi aku gagal menerjemahkan maksud mentorku ke dalam perbuatan. Saat itu, aku hanya meng”iya”kan tanpa menanyakan apa maksud dan bagaimana cara mewujudkannya.

 

2. Gagal memaksimalkan kesempatan memimpin

Menuju akhir tahun pertamaku, menjelang Ramadan tahun 2016. Seluruh tim konten Traveloka dan beberapa anggota tim pemasaran menggelar rapat menyiapkan kampanye menyambut lebaran.

Singkat cerita, aku ditunjuk memimpin pelaksanaan kampanye Ramadan 2016 tersebut. Kebiasaanku dulu, aku selalu menolak saat ditunjuk menempati posisi atas walau akhirnya aku laksanakan juga tugasnya.

Baru kusadari, kegagalanku di sini dimulai dari mindset tersebut. Bisa dibilang kampanye berjalan baik. Namun, selama kampanye berjalan, aku anggap hanya menjalankan posisiku seperti biasa. Seharusnya, aku memainkan peran lebih besar daripada hanya menjalankan pekerjaan teknis.

Pemikiranku saat ini, seorang pemimpin atau manager idealnya tak hanya menguasai teknis tetapi juga mampu:

  • Mengidentifikasi kendala yang muncul di proses kerja tim.
  • Mengevaluasi hasil kerja tim dan melakukan upaya meningkatkannya.
  • Melaporkan hasil kerja dan merangkum pelajaran di kampanye berikutnya.

 

3. Gagal menanggapi keluhan pengguna secara bijak

Memasuki pertengahan tahun kedua kerja, aku dipercaya menangani media sosial dan blog Traveloka. Kemudian muncul inisiasi untuk memiliki akun Instagram. Karena sistem pelayanan konsumen kami belum terintegrasi dengan Instagram, tugas menjawab pertanyaan dan keluhan konsumen yang muncul ditangani secara ad hoc olehku.

Setelah berjalan beberapa bulan, muncul konsumen yang membombardir hampir semua kolom komentar dengan keluhan. Aku pun membalas keluhannya dengan meluruskan beberapa hal yang keliru dan meminta maaf atas kesalahan yang Traveloka lakukan.

Lalu dimulailah “debat kusir” dan kegagalanku terjadi. Aku gagal menempatkan konsumen sebagai raja, dan menekankan percakapan pada objektivitas masalah.

Jejak digital keluhan semakin panjang, dan diperparah dengan munculnya teman-teman sang konsumen yang menekan Traveloka. Tak butuh waktu lama, CEO dan para petinggi dari departemen lain tahu masalah ini, lalu berkomentar secara tidak langsung di publik tentang apa yang seharusnya aku lakukan.

Terlepas dari kebingunganku siapa yang mesti dibela waktu itu (perusahaan atau konsumen), aku anggap hal itu sebagai kegagalan untuk bersikap bijak.

 

4. Gagal menunjukkan potensi konten terhadap pertumbuhan bisnis

Aku percaya konten, khususnya tulisan, bisa menjadi mesin pertumbuhan pamungkas nan efisien. Itulah mengapa selama tahun kedua kerja di Traveloka, aku melakukan eksperimen konten dan berhasil raih 1900% user growth dalam setahun.

Seperti yang tertulis di artikel sebelumnya, aku berhasil menciptakan traksi penjualan Traveloka Pulsa dan Paket Internet, melalui permainan di media sosial. Hal ini dibuktikan data dari Product Manager yang menjadi klien program ini.

Kegagalanku adalah tidak mendokumentasikan dan mengusulkan strategi atau konsep bahwa konten (media sosial dan blog) punya andil dalam pertumbuhan bisnis. Walaupun aku pernah mengusulkan agar blog dan konten organik media sosial dimasukkan ke sistem analisa tim pemasaran, dan membuat sistem pengukur performa media sosial belum terealisasi, aku tetap anggap kegagalan ada di diriku yang kurang gigih.

 

5. Gagal memanfaatkan PMS karena menolak keberadaannya

Aku yang “dibesarkan” secara karir di perusahaan startup hingga akhirnya di unicorn seperti Traveloka, tidak terbiasa dengan sistem Performance Management System. Saat itu, mungkin hingga sekarang, aku hanya ingin berfokus menyelesaikan pekerjaan dan meraih banyak pencapaian.

Darah mudaku yang saat itu masih mudah memanas, secara diam-diam melakukan penolakan pada sistem PMS. Caranya dengan tidak mengikuti atau mengisi lembar kosong pada formulir appraisal.

Sekarang aku memandang PMS berbeda. Setelah berhenti kerja di Traveloka, aku bekerja di sebuah startup fintech pertanian. Di sana, justru aku sangat merekomendasikan adanya PMS. Sebab, hanya dengan PMS perusahaan dapat mengukur secara objektif performa dan menakar reward sesuai hak tiap individu.

 

6. Gagal memperhatikan hak sebagai karyawan

Aku adalah anak pertama yang menjadi karyawan. Ayahku seorang wirausahawan, ibuku sebagai ibu rumah tangga dan saat itu adikku masih di bangku kuliah. Tidak ada orang dekat yang mengerti apa hak dan kewajiban seorang karyawan.

Karirku dimulai dari magang yang hanya menerima gaji setiap bulan, lalu dinobatkan sebagai karyawan tetap. Begitu banyak ilmu dan pengalaman yang kudapat hingga aku merasa berkecukupan.

Kebiasaan itulah yang menjadi penyebab kegagalanku. Aku hanya berfokus pada pekerjaan dan nominal gaji yang diterima, tanpa mengerti apa saja hak seorang karyawan. Misalnya hari cuti, asuransi kesehatan, BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.

Beberapa bulan setelah hari terkahirku bekerja di Traveloka, aku masih mengurusi hak karyawanku. Hal ini tidak perlu terjadi jika aku paham hak karyawan dan menuntutnya sejak awal.

 

7. Gagal membuka komunikasi dengan atasan

Berbagai kegagalanku tersebut berakar dari gagalnya aku membuka diri; berkomunikasi dengan mentor dan atasan.

Mungkin kemandirianku dan inisiatifku disalahartikan sebagai tanda tak adanya kendala dalam proses kerja. Padahal sebenarnya banyak hal personal menjadi beban pikiran. Kadang sengaja kulewatkan begitu saja tanpa menyadari bahwa semua hal itu bertumpuk bagai glasier yang dapat longsor kapan saja.

 

Semoga semua kegagalanku selama bekerja di Traveloka tidak terulang olehmu. Terima kasih.

 

Inspirasi lainnya: