Aksi Pencitraan Indonesia

Pencitraan. Istilah ini mulai populer di kalangan masyarakat semenjak media konvensional (baca:TV) menggunakannya untuk memberitakan presiden kita yang terhormat. Katanya sih pemimpin kita ini pandai lakukan “politik pencitraan” walau bila ditelaah sih banyak banget yang lakukan aksi pencitraan ini, bukan cuma dia.

Kata #pencitraan ini sudah sering banget saya sebut-sebut via twitter dengan berbagai penjelasan teoritis non-akademis. Jadi, saya akan mengulang materi yang pernah tertulis di twitter pada blog ini.

Sebelum menjelaskan lebih lanjut tentang pencitraan ini, silahkan simak data dari Edelman tentang Trust in Indonesia. Berikut infografik kesimpulannya:

Tentu ada hubungan antara trust/kepercayaan dengan pencitraan. Karena tanpa kepercayaan maka pencitraan seseorang bisa dinilai gagal. Di hasil riset tersebut bisa dilihat tuh kalangan masyarakat yang dinilai masyarakat lain dapat terpercaya. Silahkan lihat sendiri sebagai modal pencitraan pribadi 🙂

Cara termudah meningkatkan status sosial adalah melalui profesi, bila tidak? buat saja pencitraan.

Satu hal yang kupelajari dari pelajaran sosiologi waktu SMA adalah ada profesi yang dipandang tinggi oleh masyarakat, salah satu profesi tersebut adalah pemuka agama dan aparat berseragam. Pandangan saya terhadap dua profesi ini pun tak begitu baik dikarenakan saat ini banyak kasus negatif/positif terkait dua profesi ini.

Saya setuju: menemukan seorang guru mencuri bukan berarti semua guru adalah pencuri.

Menurut pengamatan saya yang terbatas, saat ini banyak orang telah melakukan pencitraan terutama saat media sosial mulai tenar di Indonesia. Bukan cuma kalangan politisi, akademisi dan non-akademisi pun suka sekali melakukan pencitraan. Bahkan aksi pencitraan secara alamiah ada di pribadi setiap orang; saat kamu ingin terlihat pintar di kelas atau ingin tampil menawan di publik maka saat itulah pencitraanmu dimulai.

Tak perlu malu, tak perlu ragu. Pencitraan bukanlah hal yang merugikan, asalkan kita melakukannya dengan benar maka tak akan ada orang yang terluka karenanya.

Pencitraan publik sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan geografis sosial agar tak saling mengiris.

Dalam bisnis, pencitraan merek umum dilakukan bahkan pencitraan berkedok CSR pun sering dilakukan kaum kapitalis tersebut. Tujuannya? tentu saja nama baik dan keuntungan dibelakang. Begitupula dengan manusia sebagai mahluk sosial yang tak bisa hidup sendiri, mereka butuh pencitraan agar terlihat berbeda dengan kalangan sekitarnya.

Yang perlu kamu perhatikan dalam melakukan pencitraan adalah para korban pencitraanmu itu, sejauh mana pengetahuan mereka tentang dirimu? serumit apa jaringan pertemanan dengan mu?

Hal termudah membentuk pencitraan adalah dengan menginformasikan semua orang secara serentak atau yang dikenal dengan istilah media campaign. Para politisi sudah membuktikannya, ada yang berhasil ada juga yang terpuruk. Pernah dengan nama Dahlan Iskan atau Jokowi?

Strategi keluar yang elegan perlu dilakukan saat pencitraan publik pada satu kelompok sosial dinilai gagal.

Kalau kamu adalah Ariel Peterpan, apa yang akan kamu lakukan sekarang? kalau Luna Maya bagaimana?

Sangat diperlukan strategi keluar atau exit strategy yang tepat untuk menyelamatkan diri karena tak mungkin selamanya kita bertahan dengan pencitraan saat ini. Jangan terlena dengan “zona nyaman” dimana semakin nyaman maka semakin menghancurkan pribadi kita.

Pencitraan ada dimana-mana, disekitar kita. Buka mata dan pikiran, resapi dengan hati.

nb: tulisan menarik tentang pencitraan di kompasiana, coba dibaca.

Inspirasi lainnya: