Aku Melihat Temanku Mati di Dalam Mimpi

Salam,

Sabtu malam sampai Minggu pagi, 13 Oktober 2013 sekitar pukul 06.00 WIB aku mengalami mimpi paling detil sekaligus menyeramkan yang pernah aku ingat.

Hingga aku putuskan mimpi ini harus dicatat dalam tulisan; entah apa yang akan terjadi. Karena dalam mimpiku itu salah satu temanku mati, walau aku tak melihat jasadnya. Dan dalam mimpi yang sama aku menyaksikan runtuhnya gedung (simbol) bersama dengan orang yang paling mempengaruhiku.

Beragam simbol dan kejadian yang terjadi dalam mimpiku tersebut sungguh tertata jelas dengan plot simpel namun aku berpikir semua itu penuh arti; entah apa yang dimaksud. Aku kan coba menterjemahkan mimpiku tersebut dalam tulisan ini.

Karakter Mimpi
Ada 3 karakter lain selain diriku dalam mimpiku yang kuketahui adalah teman-temanku, yaitu: Yasa, Shanti & Ezar/Wobo. Aku kurang yakin siapa karakter terakhir tersebut diantara dua nama itu.

Latar Mimpi
Terjadi di malam hari, dengan latar tempat seperti di taman Menteng yang banyak penjual siomay bersepeda dan ramai orang duduk menyebar di sekitarnya. Tak jauh dari situ ada gedung tinggi persis seperti gedung UNJ lengkap dengan huruf besarnya itu.

Temanku Mati Dalam Mimpi
Bermula dari diriku yang mengusulkan untuk membeli siomay di taman tersebut. Setelah beberapa menit mengobrol dengan Yasa, Shanti & Ezar/Wobo, aku mengajak mereka untuk berpindah tempat ke lantai teratas gedung.

Ternyata banyak orang yang duduk bersila tanpa kursi atau karpet di lantai teratas gedung tersebut; beberapa saat setelah kami duduk mengobrol lalu terjadilah gempa yang cukup besar, hingga menyebabkan gedung miring sekitar 5-15 derajat tapi semua orang di sana tetap tenang dan tidak panik sedikitpun.

Karena ketakutanku gedung akan roboh, maka aku mengajak Yasa untuk segera keluar lewat tangga darurat tanpa Shanti & Ezar/Wobo; mereka pun tidak berniat untuk ikut kami keluar. Ternyata sudah banyak orang panik keluar gedung melalui tangga darurat, sehingga aku & Yasa cukup kewalahan menuju lantai bawah.

Gedung ini roboh sebagian dalam mimpiku.

Sesampainya di luar gedung, tak lama kemudian tiba-tiba sebagian lantai gedung roboh menyisakan beberapa lantai terbawah saja yang masih tegak berdiri.

Aku pun langsung menyadari bahwa Shanti & Ezar/Wobo ikut tertimbun reruntuhan, Yasa pun langsung menangis karena mereka mati walau tidak ada satupun jasad dari mereka atau orang lain yang terlihat di mimpiku itu.

Karakter yang paling kuingat adalah Shanti yang tertimbun reruntuhan gedung tersebut, mungkin karena aku tidak jelas melihat siapa karakter ketiga; Ezar/Wobo.

Kami berpelukan, aku mencoba menenangkan Yasa namun aku pun tak kuat menahan duka; seakan rasa sedih itu nyata sekali hingga aku merasakan mataku berbinar dalam tidur. Setelah itu tidak ada lagi mimpi tersebut dan yang kuingat aku telah terbangun.

Analisa Mimpi
Simplifikasi plot cerita dari mimpiku kurang lebih sebagai berikut:

Siomay  ->  Lantai Atas  ->  Gempa  ->  Kehancuran  ->  Kematian

Bila aku telaah plot tersebut sebagai tanda dalam kehidupanku maka aku bisa menjelaskan kalau:

Siomay
Adalah kenyamanan; berkaitan dengan tempat berkumpul kala sore di tempatku bekerja, dimana terdapat penjual siomay/batagor.

Lantai Atas
Lantai atas di gedung UNJ; melambangkan jenjang kuliahku yang mencapai semester akhir. Atau menandakan sebuah momen tertinggi dari sesuatu (aku lebih suka mengaitkannya dengan percintaan atau pertemanan).

Gempa
Bencana yang menggangu dan memaksa untuk segalanya bergerak, logis erat kaitannya dengan keputusanku berhenti kuliah. Tapi aku menemukan analogi lain bahwa gempa adalah simbol perkelahian antara aku dan Yasa yang terjadi saat ini.

Kehancuran
Hanya lantai terbawah yang tersisa; pondasi yang kuat. Akibat dari adanya gempa (sebab), mungkin melambangkan hancurnya kesempatanku mendapat gelar akibat putus kuliah. Dengan analogi gempa sebagai perkelahian, aku menemukan gedung sebagai simbol pertemanan dan kehancurannya menandakan putusnya tali pertemanan aku dan Yasa.

Kematian
Kematian; lambang putusnya pertemuan, artinya aku tidak akan bertemu lagi dengan Shanti & Ezar/Wobo.

Aku menemukan ada 2 analogi dalam mengaitkan semua tanda di atas, jika aku terjemahkan dalam sebuah kalimat maka tercipta dua cerita yang berbeda:

Pertama; aku sebagai mahasiswa ekonomi UNJ atas keinginanku pribadi memutuskan untuk berhenti kuliah di langkah terakhir pendidikanku, meninggalkan temanku lainnya yang telah menyelesaikan kuliahnya; turun memulai lagi dari dasar bersama orang terdekatku.

Kedua; aku sebagai makhluk sosial yang tengah mencapai momen terbaik dengan seseorang. Karena sesuatu yang tak bisa dikendalikan, aku terpaksa menghancurkan hubunganku dan berimplikasi pada hilangnya kesempatan untuk bertemu teman lainnya, untuk selamanya.

Dengan pengertian tanda-tanda tersebut, aku menyimpulkan bahwa mimpi tersebut adalah refleksi atas kejadian yang terjadi dalam hidup dan sama sekali bukan perkiraan masa depan atau masa lalu. Tapi aku yakin, kenapa aku bisa menuliskan ini dan menganalisanya seperti ini pasti akibat pengaruh dari buku yang kubeli beberapa waktu lalu.

Terbeli juga deh buku semiotika dari @bukalapak, kalau begini caranya jadi jarang ke Gramedia nih 😀 pic.twitter.com/AN03dfyzLk
— Amal Agung Cahyadi (@akhmadamal) October 10, 2013

Makna besar dari 2 kesimpulan mimpiku tersebut adalah bahwa aku memiliki masalah. Aku anggap mimpi & tulisan ini adalah bagian dari proses pembenahan diriku. Kedua kesimpulan tersebut dapat kubilang sebagai fakta saat ini, namun tidak dengan bagian akhirnya.

Jika harus memilih ujung mana untuk menjadi akhir, aku memilih cerita pertama. Bagaimana denganmu, teman?

Inspirasi lainnya: