Asumsi Harapan

Siang hari yang tenang ditemani langit sendu dan kondisi perut kosong sejak pagi, tiba-tiba menjadi sumringah setelah ada pesan digital datang bermakna sebuah permintaan. Sayang disayang situasi lokasi dan kondisi sedang tidak bercengkrama dengan baik sehingga hanya penolakan yang kuberikan sebagai jawaban.

Yang menyenangkan bukanlah sebuah permintaan tapi pernyataan setelahnya, ketika dia mengirim pesan
Urusan kita memang gak lagi jadi penting, sepertinya.
Tetap penting, hanya menjadi prioritas kedua saat ini“, begitu balasanku.
Selesai sudah komunikasi singkat kami hari ini.

Singkat, padat, jelas tanpa kiasan. Itulah ciri khas perkataannya, dan itulah alasan aku masih mengkaguminya hingga sekarang bahkan saat dia katakan hal keras padaku.

Hal yang selalu aku ingat dan lupa adalah:
jangan pernah berasumsi, asumsi senjata bunuh diri.

Tapi kali ini biarkan asumsiku memotivasi diri sekali lagi. Biarkan aku menikmati proses bunuh diriku dengan asumsi yang kubuat-buat sendiri. Biarkan dia tahu bahwa aku benar-benar rela mati hanya karena asumsi yang mungkin hanya akan membuat sakit hati ini.

Pesan singkat siang hari telah membuatku berasumsi dan memotivasi diri, karena dia secara langsung menunjukkan kepeduliannya setelah beberapa hari melihatkan sifat cueknya. Bagimu mungkin biasa saja, tapi bagiku itu sangatlah bermakna. Pesan yang kau kirim membuatku termotivasi lagi setelah aku hampir menyerah dengan keadaan.

Tanpa perlu tahu perasaanmu, biarkan aku berasumsi harapan bagi diriku.

Tulisan ini adalah bagian dari “Cinta Kali Ini”, sebuah realita kehidupan yang entah berakhir seperti apa. Kepo linimasa @akhmadamal untuk abstraksi lebih nyata dari cinta terbarukan.

Inspirasi lainnya: