Basa-Basi Tentang Delusi Sebuah Reputasi

Salam,

Reputasi! hal paling berharga bagi mereka yang menghalalkan segala cara.
— Amal Agung Cahyadi (@akhmadamal) January 22, 2013

Tulisan ini aku buka dengan salah satu tweet-ku kemarin tentang reputasi. Mungkin terdengar skeptis dan tak logis tapi bila kita telaah lebih lanjut, itulah kenyataannya. Tak sedikit orang yang melakukan banyak cara licik untuk mendapatkan reputasi.

Banyak hal; mulai dari menjilat atasan, memalsukan ijazah sekolah, hingga yang tenar saat ini; membeli follower di Twitter.

Bagaimana bisa follower Twitter mempengaruhi reputasi?
Tentu karena ada sebagian orang yang mengkultuskan jumlah follower atas segalanya.

Indonesia adalah negara urutan ke-5 pengguna terbanyak dengan jumlah sekitar 29,4 juta dan kota Jakarta adalah kota paling ‘cerewet’ di Twitter. Data tersebut menunjukkan Twitter berpengaruh di kehidupan masyarakat sehari-hari.

Bagi sebagian lain follower Twitter bukanlah hal penting tapi tidak bagi sebagian lainnya, apalagi mereka yang telah terjebak pada dunia digital atau mereka yang memang berniat mempopulerkan diri di dunia maya.

Pembelian akun @soalCINTA
Sepengetahuanku ini adalah pembelian akun terbesar di Indonesia. Akun @soalCINTA dengan lebih dari 1 juta follower diakuisisi dan berubah menjadi @DennyJA_WORLD. Perlu diketahui Denny JA adalah tokoh yang cukup sering berkecimpung pada dunia politik.

Entah maksud apa dibalik pembelian akun @soalCINTA ini, tapi disinyalir ada kaitannya dengan pemilihan presiden tahun 2014 nanti. Hal ini pernah dibahas oleh mas @pitra di blog Media Ide miliknya.

Jasa tambah follower
Entah sejak kapan bisnis ini muncul, yang pasti jasa menambah follower Twitter cukup banyak peminatnya. Kalau tidak, tentu tidak akan banyak pihak yang menawarkan jasa ini secara terang-terangan gampang ditemukan. Follower yang didapat pun bukanlah akun aktif, melainkan akun yang memang dibuat untuk tujuan ini.

Biasanya jasa menambah follower digunakan oleh para agensi digital untuk mencapai target yang ditetapkan kliennya tapi sekarang pun banyak dipakai akun personal untuk ‘meninggikan’ reputasi. Karena mempunyai lebih banyak pengikut dipercaya dapat menciptakan persepsi positif oleh orang lain.

Namun kini mulai banyak kaum korporat yang sadar bahwa pengikut fiktif tersebut tidaklah menguntungkan bagi mereka karena itu semua bagai manekin yang tak membantu capai target utamanya; keuntungan finansial.

Entah apa alasannya, tapi bisa ditebak para akun personal membeli(follower) demi keuntungan sendiri atas nama reputasi bahkan gengsi. Entah penelitian mana yang mendukung asumsiku ini tapi memang harus diakui bahwa sesaat aku ‘hormat’ pada seseorang dengan follower banyak, apalagi jika dia mempunyai karya pada dunia nyata. Hanya sesaat lho yaa.

Delusi atas reputasi

Delusi paling tinggi bisa jadi banyak terjadi disini(Twitter).
— Amal Agung Cahyadi (@akhmadamal) January 23, 2013

Follower Twitter yang fiktif itu adalah delusi, bagai berteman baik dengan ribuan manekin ditengah dunia nyata. Tidak ada aturan yang menyalahkan membeli follower palsu di Twitter tapi hal tersebut dapat menghancurkan reputasi diri sendiri sesaat orang lain mengetahuinya.

Terlebih saat ini sudah muncul beberapa alat mendeteksi follower palsu di Twitter, misalnya fasilitas dari Statuspeople.com walau entah bagaimana algoritmanya.

Bagai berdiri di lapangan yang penuh dengan manekin adalah gambaran mereka yang miskin akan pertemanan.
— Amal Agung Cahyadi (@akhmadamal) January 23, 2013

Sekali lagi dengan semangat DIY(Do-It-Yourself), kita pun bisa membedakan antara follower fiktif dengan asli. Bermodal ketekunan saja, kita bisa menilai sebuah akun. Ini salah satu cuplikan contoh dari follower palsu yang langsung aku tangkap dari akun teman sejawat:

Bagaimana caranya bisa mengenali follower palsu ini? 
Ah, lebih baik kita bicara langsung saja 🙂

Sekian basa-basi dari delusi reputasi ini, semoga kita bukan bagian dari mereka yang melakukannya. Karena reputasi bukanlah segalanya. Lebih baik tetap bertindak sebaiknya demi kebaikan sesama dan biarkan orang lain yang bicara tentang kita.

🙂

referensi:
TechCrunch.com

Inspirasi lainnya: