Cara Untuk (Tidak) Melakukan Pencitraan

Salam,

Masih terekam di telingaku, kata Dia aku ini jago melakukan pencitraan. Entah apa yang dimaksud, pastinya itu adalah hal buruk baginya. Karena opini tersebut aku akan menjelaskan serba-serbi pencitraan lewat tulisan ini dalam bentuk tanya-jawab.

Definisi Pencitraan
Sebelum lanjut ke penjelasan praktikal, kita coba pahami dulu apa definisi pencitraan. Berasal dari kata dasar ‘citra’ yang menurut KBBI adalah gambaran yg dimiliki orang banyak mengenai pribadi, perusahaan, organisasi, atau produk. Dengan kata lain, citra adalah milik orang lain bukan pribadi atau organisasi terkait.

Apakah citra bisa dibentuk?
Dalam ilmu pemasaran, ada teori (personal branding) yang mengiyakan pertanyaan tersebut; entahlah dalam ilmu sosial, namun sepertinya pun bisa.

Apakah melakukan pencitraan itu baik?
Baik selama tujuannya positif; ingatlah bahwa berperilaku baik belum tentu berhati baik tapi berhati baik tentu (biasanya) berperilaku baik. Bahkan dalam agama pun manusia diserukan berperilaku baik dihadapan Tuhan; karena pencitraan adalah soal tindakan dan kebiasaan.

Seperti bajaj; hanya Tuhan dan pengendara(pelaku) yang tahu kemana arah bajaj tersebut berbelok. Begitupula semua tindakan; hanya Tuhan dan diri kita yang paham apa maksud dan tujuan pencitraan.

Apa yang membuat pencitraan itu buruk?
Masyarakat itu sendiri; asumsi yang tersebar dan media yang mengembar-gemborkan berita soal tindakan seseorang menciptakan pemikiran subjektif terhadap pencitraan tersebut. Sosok ideal yang hadir di dalan kepala kita menjadi indikator dalam menilai seseorang; contohnya pemerintahan selalu di-cap buruk oleh masyarakat sehingga apapun kebaikan yang dilakukan salah satu tokoh di dalamnya dinilai hanyalah sebuah pencitraan.

Media sosial; adalah salah satu hal yang bisa kita kambing hitamkan atas segala persepsi masyarakat, belum lagi dengan media konvensional.

Bagaimana cara untuk melakukan pencitraan?
Rajin shalat; sering menabung; rutin gosok gigi; belajarlah menjahit. Got it?


Tak tambahkan sedikit bagaimana cara melakukan dan menjaga pencitraan:

Pertama, kita mesti paham siapa target audience yang menjadi ‘korban’ pencitraan; apakah orang tua, teman, kakak ipar atau calon mertua, Kemudian mencari tahu dimana mereka sering beraktivitas karena itu tempat sasaran kita melakukan pencitraan.

Kedua, pilihan tempat yang paling murah dan mudah untuk melakukan pencitraan adalah di media sosial. Jika kamu memiliki media konvensional(TV, koran, radio) milik sendiri maka akan lebih mudah lagi. Mengapa media sosial? karena itulah tempat publik digital dimana semua orang dapat berasumsi tentang diri kita.

Ketiga, bayangkan hasil akhir dari pencitraan kita; misalnya kita ingin dikenal ‘punya banyak uang’ maka kita mesti membuat rencana strategik dan taktikal yang mengasosiasikan diri kita dengan kekayaan. Misalnya: memperlihatkan dimana kita kerja, dimana kita beraktifitas atau apa yang kita kenakan.

Empat, kurangi frekuensi berkomunikasi secara langsung atau tidak langsung dengan target audience tapi pastikan mereka melihat apa yang kita kerjakan. Ini penting agar memudahkan mereka dalam berasumsi dan juga berkaitan dengan pengukuran keberhasilan pencitraan kita.

Lima, konsistensi penting setelah mendapat tujuan akhir dan membuat rencana. Parameter sukses tidaknya pencitraan kita dapat dilihat saat orang lain berpendapat tentang kita. Ini terkait dengan tindakan ‘menghilang’-nya diri kita (poin empat) dari publik.

Bagaimana cara untuk tidak melakukan pencitraan?
Tidak tahu; saya kan ahli pencitraan 🙂 *lelucon*

Apapun yang kalian lakukan akan selalu memberi impresi pada orang lain sehingga timbul pencitraan terhadap pribadi kalian. Bagaimana bentuk pencitraan orang lain terhadap kalian? itulah tanggung jawab kalian kepada Tuhan YME, jika kalian mempercayai-Nya maka citrakanlah dirimu baik di hadapan-Nya dan sesama makhluk-Nya.

Kalian bisa melakukan mulai pencitraan baik dengan melengkapi riwayat hidup digital-mu. Terima kasih. Mari diskusi!

Inspirasi lainnya:

  • Tulisan ini mengajari, kalau pencitraan itu alami

    Duhai orang-orang yang berpikir kalau pencitraan itu hanya urusan sentimen negatif.