Di Balik Idealisme Steve Jobs & Produk Apple Inc.

Salam,

Tentu kita semua sudah tidak asing dengan logo diatas; sebuah apel ‘kroak‘ yang melambangkan produk teknologi dengan harga mahal yang tidak semua orang dapat menjangkaunya.

Steve Jobs (bersama Steve Wozniak) mungkin orang yang paling bertanggung jawab atas hadirnya produk bermerek Apple Inc. Ide dan idealismenya telah mengukir seluruh produk Apple Inc. sejak tahun 1976 hingga munculah kisah pertarungan hebat antara Mac dan PC yang dikepalai oleh Bill Gates.

Pasti tak sedikit diantara kita yang melihat Apple tak berbeda dengan korporat keparat yang mengutamakan keuntungan, karena aku pun masih beranggapan demikian. Tapi ada beberapa hal yang ingin kubagi dengan semua orang tentang korporat keparat ini; mereka tak biasa.

Semakin dipelajari sejarahnya, semakin aku mengerti tujuannya.

Aku mulai dengan melihat rekaman presentasi Steve Jobs saat peluncuran Macbook Pro di tahun 2008 berikut ini:

Kemudian aku berpendapat kalau Apple Inc. memang tidak hanya menciptakan produk demi keuntungan semata, setiap desainnya memiliki alasan yang mungkin radikal namun sangat masuk akal.

Ragu kalau tujuan Apple menjadi sistem komputer no.1 di dunia. Entahlah.
— Amal Agung Cahyadi (@akhmadamal) February 3, 2013

Lalu aku berpikir, nampaknya Steve Jobs memang tidak bertujuan membuat mass-product yang sekedar bertujuan uang tapi ada hal lain dibalik itu. Dan aku menemukan rekaman wawancara berikut ini:

Dalam wawancara diatas, Steve Jobs menjawab pertanyaan seorang reporter dengan penjelasan bahwa tujuan dari Apple Inc. adalah memberikan komputer berkualitas dengan harga termurah yang dapat dicapai dan mereka punya batasan kualitas dari sebuah produk.

Walau memang terdengar seperti jawaban retorika tapi itulah pengakuan Steve Jobs dalam membuat produk. Aku percaya hal tersebut; biar ku perjelas lewat pernyataan berikut:

Steve terlalu idealis untuk pakai konstruksi teknologi yg sudah ada agar tujuannya tercapai, gak heran produknya muahal!
— Amal Agung Cahyadi (@akhmadamal) February 3, 2013

Ya! Steve Jobs terlalu idealis untuk kompromi dengan standar teknologi yang ada. Baginya sebuah konstruksi teknologi haruslah memenuhi kebutuhan desain, terlebih jika itu memberikan manfaat lebih.

Satu hal yang menurutku kelemahan produk Apple Inc. adalah: baterai yang terintegrasi(unremovable battery) dan tak bisa dilepas. Namun apa yang kutemukan, ternyata alasan Apple Inc. pakai sistem tersebut adalah demi efisiensi desain dan user experience seperti yang dijelaskan pada Tom’s Hardware.

Berdasarkan pengalamanku bertahun-tahun menggunakan sebuah laptop(Windows); aku menginginkan sebuah mesin yang dapat kugunakan kapanpun tanpa perlu repot memikirkan hal lain. Dan betul! Steve Jobs menciptakan produk berdasarkan keinginan konsumen seperti itu. Produk Apple Inc. bahkan Macintosh sendiri tercipta sangat intuitif pada segala umur pengguna. Bahkan Fikri Rasyid pun membelikan Mac Mini untuk ibunya dengan alasan user experience.

Yup! korporasi lain nampak lebih pilih gunakan konstruksi teknologi yg sudah ada krn lebih murah, beda dengan Apple. DIY spirit (“,)9
— Amal Agung Cahyadi (@akhmadamal) February 3, 2013

Ternyata idealisme Steve Jobs memang tak bisa dibayar dengan harga murah, semua produk Apple Inc. yang menakjubkan dan memanjakan mata harus kita bayar mahal bila ingin memilikinya. Tapi buatku ini bukan masalah melainkan pilihan bagi konsumen.

Banyak hal kelebihan produk Apple Inc. yang tak dimiliki kompetitor lain, misalnya keramahannya terhadap lingkungan dan lainnya. Dan kita tahu produk yang ramah lingkungan memang cenderung mahal.

Mac Vs. PC
Pertarungan yang tak akan ada habisnya, namun aku menemukan sebuah kalimat yang mungkin bisa meredakan pertengkaran kedua fanboy:

If you can’t afford it, you have no business with apple.

Aku bukan penggemar kelas berat produk Apple Inc. dan belum memiliki salah satu produknya tapi aku mengagumi cara Steve Jobs merealisasikan ide dan idealismenya lewat produk-produknya. Semoga tahun ini aku dapat memiliki MacBook Pro 13-inch: 2.9GHz kreasinya. Amiin.

We become what we behold. We shape our tools and thereafter our tools shape us – Marshall McLuhan.
— Amal Agung Cahyadi (@akhmadamal) February 3, 2013

Terima kasih 🙂

Inspirasi lainnya: