Harga Bukan Patokan Mahal atau Murah Sebuah Barang

Salam,

Entah sudah berapa kali aku menjelaskan kepada ibu tentang cara membedakan mana barang mahal dan murah. Momen seperti itu selalu terjadi tiap kali aku membeli barang yang harganya cukup ‘wah’ buatnya, terlebih dimatanya aku tipe orang yang ‘sembarangan’ dalam merawat barang.

Dan selalu aku pun langsung menjelaskan tentang fungsionalitas & keperuntukan sebuah barang guna menangkis tuduhan tentangku yang ‘sembarangan’ itu. Lalu baru kusadari, mungkin masih banyak yang beranggapan bahwa menentukan sebuah barang murah/mahal itu dari harga saja.

Bedakan ya antara konsumsi barang dengan jasa, aku menjelaskan dalam konteks konsumsi barang; lebih tepatnya pandanganku dalam menentukan nilai sebuah barang (murah atau mahal).

Tidak adil kalau kita sebagai konsumen hanya melihat harga sebagai variabel dalam menentukan murah/mahal sebuah barang, karena banyak variabel yang membentuk sebuah barang.

Seyogyanya murah/mahal suatu barang dinilai tak hanya harga tapi kualitas dan biaya peluang yang berbeda di setiap orang.
— Amal Agung Cahyadi (@akhmadamal) December 22, 2013

Banyak orang menilai mahal/murah barang berdasarkan daya belinya, sehingga penilaiannya sangat subjektif dan tidak dapat dijadikan referensi oleh orang lain. Baiknya, nilai barang dilihat dari manfaat yang dapat diberikan bagi konsumen kemudian dibandingkan dengan barang sejenis (kompetitor).

Bagi karyawan dengan gaji 3 juta/bulan, mobil BMW seharga 500 juta adalah barang mahal. Tapi bagaimana jika ia diberikan potongan harga 20% jika membelinya?

Kemudian ada yang disebut biaya peluang (opportunity cost) yang berbeda pada setiap orang. Contoh nyatanya seperti ini:

Tiba-tiba saja motor kita kehabisan bensin dan jarak SPBU terdekat 5km jauhnya, tapi tak jauh dari situ ada penjual bensin eceran yang mematok harga 50% lebih mahal dari harga resmi. Dengan kondisi tersebut maka harga bensin eceran bisa menjadi sangat murah (logis) dibanding harus berjalan kaki menuju SPBU terdekat.

Biaya peluang (opportunity cost) tiap orang berbeda berdasar pada kondisi situasi & waktu saat ingin/butuh sebuah barang.
— Amal Agung Cahyadi (@akhmadamal) December 22, 2013

Cara mudah dalam menilai mahal/murah sebuah barang adalah dengan mengenalinya apakah termasuk kebutuhan atau keinginan. Manusia dengan nafsunya tidak akan pernah cukup dalam memiliki sesuatu sehingga jadi sangat wajar jika barang keinginan kita lebih mahal dari barang yang memang dibutuhkan.

Tipikalnya manusia mesti membayar lebih mahal untuk mendapat keinginan di atas kebutuhan hidup.
— Amal Agung Cahyadi (@akhmadamal) December 22, 2013

Dalam pasar persaingan sempurna terdapat banyak penjual dan pembeli, harga jenis barang yang sama bisa saja berbeda-beda. Hal tersebut mungkin terjadi karena adanya variabel merek yang secara tidak langsung menciptakan persepsi nilai sebuah barang.

Contohnya sandal jepit dengan fungsionalitas yang sama; merek Swallow harganya berkali-kali lipat lebih murah dibanding merek Havaianas.

Harga sandal Havaianas yang mahal dikarenakan tingginya persepsi nilainya oleh banyak orang (target konsumen). Sebelum harga jual ditentukan, produsen meriset konsumennya terlebih dahulu kemudian menghitung rentang harga yang masuk akal bagi konsumen. Setelah itu persepsi dibentuk pelan-pelan lewat iklan dan lain-lain hingga konsumen menerimanya.

Prinsip pemasaran klasik menyebut proses berpikir konsumen dengan AIDA:

AwarenessInterestDesireAction

Singkatnya, konsumen mengetahui tentang sebuah barang hingga tertarik lalu ingin memilikinya hingga melakukan pembelian. Dalam proses inilah, logika kita pada nilai barang menjadi bias; kita sering kali membeli sesuatu atas dasar keinginan. Ini semua terjadi berkat banyak variabel, yang terkuat adalah merek.

Dengan memasukkan varibel merek dalam proses penilaian barang maka tiap orang akan punya persepsi yang berbeda-beda sehingga tak lagi objektif bahkan untuk konsumen cerdas kelas A.

Sekarang, coba jawab pertanyaanku dan tulis di bagian komentar untuk ketahui pemahamanmu tentang nilai sebuah barang:

Pamanmu seorang pilot yang sedang berada di Amerika menelpon untuk mengabari bahwa dia mendapat diskon 25% untuk membeli laptop Macbook Pro, dan dia bertanya kepadamu haruskan dia membeli laptop tersebut. 

Apa jawabmu? dan jelaskan alasannya.

Inspirasi lainnya: