Informasi Dasar Tentang Pemberian Saham Oleh Perusahaan

Salam,

Mungkin di antara kalian ada yang pernah mendengar bahwa karyawan Starbuck mendapat sebagian saham perusahaan, sehingga semua yang bekerja di sana berkesempatan menjadi pemilik dari Starbuck.

Atau ada di antara kalian yang sedang berseri-seri karena mendapat penawaran untuk membeli/mendapat saham dari kantor, sehingga terbayang akan mendapat uang kaget.

Jangan terlalu senang karena mendapat saham gratisan jika kalian belum tahu apapun tentang Program Kepemilikan Saham oleh Karyawan (Employee Stock Ownership Program, ESOP).

Lembar saham Dutch East India Company tahun 1622.

Terdapat dua tipe perusahaan (perseroan) yaitu terbuka dan tertutup. Perusahaan terbuka atau publik memiliki saham yang diperjual-belikan pada pasar saham, sehingga semua orang (termasuk karyawan) dapat membelinya. Sedangkan perusahaan tertutup atau terbatas tidak perjual-belikan sahamnya kepada publik.

Perusahaan tertutup yang mencapai performa (syarat) tertentu dapat melakukan IPO (Initial Public Offering); penjualan saham ke publik, dengan kata lain berubah menjadi perusahaan terbuka.

Kembali pada topik ESOP atau pemberian saham kepada karyawan dapat dilakukan oleh perusahaan terbuka atau tertutup. Namun pada pembahasan ini aku akan menjelasakan pada kasus perusahaan tertutup.

Setidaknya ada 5 bentuk dari pemberian saham (ESOP) di Indonesia:

  1. Pemberian saham secara langsung (Stock Grants)
  2. Penawaran untuk membeli saham (Direct Employee Stock Purchase Plans)
  3. Program Opsi Saham (Stock Option Plans)
  4. Program Pensiun (Employee Stock Ownership Plans, ESOPs)
  5. Phantom Stock & Stock Appreciation Rights (SARs)

Pada perusahaan tertutup biasanya bentuk no.1 sering digunakan untuk bagi-bagi saham kepada karyawan, seperti halnya Starbuck. Bentuk dari Stock Grants itu sendiri terbagi lagi menjadi dua; tanpa pembatasan dan dengan batasan.

Contoh dari batasan tersebut:
Karyawan berhak mendapat saham jika telah bekerja dengan periode waktu tertentu.

Program kepemilikan saham oleh karyawan biasa dilakukan dengan kepentingan ‘mengikat’ sang karyawan lewat dalih pemberian apresiasi/bonus. Karenanya program ini biasanya hanya diberikan kepada karyawan berprestasi atau loyal.

Logo Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan.

Bila menurut BAPEPAM, ada 4 kekurangan dan 4 kelebihan dari program Stock Grants bagi perusahaan:

Kelebihan program pemberian saham:

  1. Dengan dibubuhkannya ketentuan vesting, stock grant dapat menjadi suatu alat retensi karyawan yang efektif;
  2. Stock grants merupakan program yang sederhana untuk diimplementasikan dan mudah difahami oleh karyawan;
  3. Program ini memberikan suatu cara bagi perusahaan untuk membayar insentif yang terkait dengan kinerja tanpa menggunakan sumber daya kas;
  4. Memberikan karyawan suatu partisipasi modal di perusahaan.

Kekurangan program pemberian saham:

  1. Memberikan hak suara kepada karyawan;
  2. Selama tidak diharuskan menginvestasikan kas pribadi, karyawan mungkin tidak merasakan nilai kepemilikan yang sebenarnya;
  3. Dapat menyebabkan masalah arus kas bagi karyawan sebagai akibat dari konsekuensi pajak dari penerimaan stock grant;
  4. Mengakibatkan pengakuan beban kompensasi bagi perusahaan.

Entah apa hambatannya, menurut beberapa sumber berita yang kubaca hingga tahun 2011 belum ada aturan khusus tentang ESOP di Indonesia. Tapi telah ada pernyataan legal menurut Undang-Undang No.40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang menyebutkan bahwa karyawan boleh memiliki saham.

Riset UI: Semakin besar perusahaan maka semakin kecil kemungkinannya untuk jalankan program ESOP.
— Amal Agung Cahyadi (@akhmadamal) November 24, 2013

Hal menarik dari program ESOP di Indonesia adalah terdapat kontradiksi antara ukuran perusahaan dengan implementasi program pemberian saham. Itu adalah kesimpulan dari riset tahun 2000 – 2002 mahasiswa UI tentang ESOP di Indonesia.

Jika dikorelasikan antara kekurangan program Stock Grants dengan riset mahasiswa UI tersebut, mungkin poin ke-1 adalah alasan utama perusahaan besar lebih enggan implementasi ESOP. Walau itu kesimpulan yang terlalu dini, tapi cukup logis bila melihat kompleksitas birokrasi pada perusahaan skala besar.

Karena bila memang perusahaan kecil lebih minat untuk implementasi ESOP, selain faktor meningkatkan retensi karyawan maka faktor praktisnya birokrasi di dalam perusahaan bisa jadi alasan utamanya.

Ternyata bagi korporat yang diinvestasi ekspatriat; ESOP jadi ‘tameng’ kudeta.
— Amal Agung Cahyadi (@akhmadamal) November 24, 2013

Pembagian saham ke karyawan bisa menjadi “tameng” bagi para pimpinan untuk melindungi perusahaan dari aksi ambil alih kekuasaan. Karena karyawan menjadi punya hak suara di dalam rapat keputusan.

Gaji atau ESOP? Keduanya bukan barang substitusi.
— Amal Agung Cahyadi (@akhmadamal) November 24, 2013

Memiliki saham artinya memiliki tanggung jawab pada sebagian perusahaan, sehingga kala performa baik maka kita akan ikut untung dan begitupun sebaliknya jika perusahaan bangkrut maka kita pun akan menerima getahnya.

Terima kasih kepada Mas Rein yang telah publikasi tulisan ini ke StartupBisnis.

Semoga bermanfaat.

Inspirasi lainnya: