Keuntungan dan Kerugian Memiliki Seorang Pacar

Salam,

Sebelumnya kita semua sudah paham bagaimana cinta sebenarnya datang, lalu apa implikasinya pada kehidupan kita?

Setiap orang memiliki respon berbeda-beda kala cinta datang, tergantung dari prinsip hidup dan perspektif yang ia miliki; karenanya kita sebaiknya hindari menuduh apa yang benar atau salah dalam menanggapi rasa cinta.

Kala cinta datang ada yang menanggapinya dengan pernikahan, mengabaikannya tapi kebanyakan dari kita (anak muda) memilih untuk menjalin hubungan yang disebut pacaran.

Definisi Pacaran
Menurut KBBI, kata “pacar” dengan imbuhan -an memiliki 3 konteks arti tapi kata “pacar” yang kumaksud adalah:

Teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih; kekasih.

Sejarah Pacaran
Menurut referensi yang kubaca, proses pacaran telah ada sebelum masehi dan merupakan bagian awal sebelum berlanjut ke jenjang pernikahan; dikenal dengan berbagai istilah.

Pacaran diketahui ada beberapa model; formal dan informal. Tunangan adalah salah satu bentuk formal dari ‘pacaran’ dimana tiap keluarga dipertemukan dan bentuk informalnya seperti yang kita kenal sekarang.

Di Indonesia ada istilah ’emak comblang’ dalam model formal pacaran; bertugas mempertemukan dua calon pengantin berdasarkan beberapa faktor misalnya budaya ketimbang faktor romantisme. Dalam filosofi Jawa terdapat bibit, bebet, bobot yang menjadi pertimbangan memilih pasangan.

Dalam sejarahnya, budaya pacaran selalu berevolusi mengikuti perkembangan budaya & teknologi manusia maka wajar hal tersebut masih eksis hingga sekarang. Jangan heran bila gaya pacaran cucu kita di masa depan sangat berbeda dengan generasi kita saat ini, itulah evolusi budaya.

Dapat diperhatikan bahwa budaya pacaran dari dahulu kala hingga saat ini semakin praktis; misalnya dulu di Indonesia kental dengan perjodohan oleh orang tua, sedangkan kini semua anak muda dapat berkali-kali menyatakan telah ‘pacaran’.

Pada sisi ilmiah, terdapat teosi sosial menjelaskan bahwa pacaran dipicu oleh perilaku non-verbal wanita yang direspon oleh pria, beda sekali ya dengan kenyataan saat ini dimana pria lebih agresif dibanding wanita.

Terlepas dari sejarah budaya pacaran yang telah dijabarkan, aku akan menyimpulkan keuntungan serta kerugian mempunyai pacar dari sudut pandang praktis; modern.

Keuntungan Punya Pacar

Banyak pendapat tentang keuntungan punya pacar, dan nampaknya semua orang pun setuju punya pacar itu menyenangkan. Tapi aku akan lebih spesifik dengan melihat dari beberapa perspektif:

Perspektif Ekonomi
Memiliki pacar bisa menjadi sebuah investasi bahkan menambah tabungan masa depan. Bukan tidak mungkin pacar dapat menjadi partner bisnis, sehingga kita berpeluang menambah pendapatan dan juga memberikan kita motivasi untuk persiapkan tabungan masa depan (pernikahan) lebih matang.

Perspektif Sosial
Menjalin hubungan dengan dengan orang lain dapat melatih kemampuan bersosialisasi seseorang. Secara alamiah kita terjalin hubungan dengan keluarga, dan memiliki pacar yang notabene bukan keluarga sedarah dapat memberikan pandangan & rasa pengalaman lain pada kehidupan kita sebagai makhluk sosial.

Kerugian Punya Pacar

Bagai koin yang selalu punya dua sisi, selain kenyamanan dan keuntungan ternyata pacaran pun berindikasi kerugian dalam kehidupan kita. Berikut kerugian pacaran yang kutemukan dari beberapa perspektif:

Perspektif Ekonomi
Punya pacar artinya punya tambahan tanggung jawab, dengan kata lain tambahan beban pengeluaran. Bila kita tak dapat mengontrol diri bukan tak mungkin pacaran hanya kegiatan menghamburkan uang.

Perspektif Sosial
Gejolak emosi dalam pacaran dapat mengubah karakter seseorang yang bila kita tak mampu mengendalikan emosi tersebut dapat pengaruhi hubungan sosial dalam bermasyarakat. Tak heran bila kita sering melihat kasus kriminal yang diakibatkan oleh pacaran.

Mungkin sebagian dari kamu anggap pacaran adalah hal sepele; hanya untuk bersenang-senang atau hanyalah kegiatan yang wajar dilakukan oleh anak muda. Entah sudah ada risetnya atau belum; berapa banyak frekuensi pacaran oleh anak muda di Indonesia. Kalau di Inggris, ada polling menyebutkan rata-rata masa pacaran di sana adalah 2 tahun 11 bulan sebelum akhirnya menikah.

Aku bukan penganut anti pacaran. Aku pernah pacaran selama 24 bulan hingga akhirnya melihat pelangi hatiku. Buatku, pacaran itu tanggung jawab besar yang tak bisa dijalankan hanya untuk main-main. Karena pacaran menyangkut dua manusia; sebagaimana kita manusia diberikan akal dan hati yang membedakan dengan binatang.

Binatang bisa saja kawin dengan semua binatang sejenisnya kapanpun, tapi tidak dengan manusia yang diberikan akal dan hati. Bila kita bermain-main dengan orang lain maka kita sama saja dengan binatang, kan?

Pacaran merupakan proses menuju tujuan besar, yaitu keberlangsungan umat manusia; reproduksi.
— Amal Agung Cahyadi (@akhmadamal) August 20, 2013

Sebagai manusia yang baik, tentu kita tak ingin menghancurkan dunia dengan hal buruk. Karenanya kita mencari pasangan untuk melahirkan & membesarkan generasi yang lebih baik untuk melanjutkan dunia lebih baik lagi.

Ternyata pacaran bisa menjadi pembahasan yang panjang dan serius ya, semoga hal ini bisa memberikan pencerahan baru.

Ini ada video menarik yang menggambarkan siklus sebuah hubungan cinta antara pria dan wanita, selamat menikmati.

Catatan: Dua sub-topik yang kuhapus dari draft tulisanku ini adalah pandangan agama tentang pacaran dan unsur seks dalam pacaran. Mungkin di tulisan selanjutnya aku akan menuliskan tentang seks dalam pacaran dengan narasumber yang cukup berpengalaman. Terima kasih.

Apa untung-rugi pacaran yang kamu rasakan?

Referensi:
Wikipedia

Inspirasi lainnya: