Melihat Seni Rupa Dari Bagian Luar Yang Terkecil

Oleh Akhmad Amal Agung C, untuk pendaftaran Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual Rupa 2011

Salam,

Dalam tulisan ini aku akan mengulas tentang pelatihan(workshop) tahunan yang telah diadakan sejak tahun 2008 dengan judul “Workshop Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual Ruangrupa 2011”.

Tulisan ini mungkin akan terlihat dibuat secara mendadak tapi ku akan berusaha untuk mengulas secara mendalam tentang hal-hal yang akan kutulis demi tujuan, diterimanya aku menjadi peserta pelatihan yang sebelumnya ku jelaskan.

Agar mudah, sesuai judul tulisan aku akan menjelaskan persepsiku tentang seni rupa dengan melihat dari pelatihan ini. Pelatihan yang kuanggap sebagai bagian luar terkecil dalam sebuah seni rupa.

Di dalam pelatihan itu disebutkan bahwa materi yang akan diberikan adalah tentang seni rupa secara umum dan kaitannya dengan isu social dan politik, antara lain:

  1. Pengantar Penulisan Kritik Seni Rupa Kontemporer,
  2. Budaya Visual Kota dan Seni Rupa Publik,
  3. Penulisan Kritik Video dan Film,
  4. Pendekatan Referensial dalam Penelitian dan Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual Kontemporer,
  5. Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual di Media Massa Umum dan Media Alternative,
  6. Penulisan Seni Rupa dan Budaya Visual dengan Pendekatan Sejarah,
  7. Konteks Sosial dan Politik dalam Penulisan Budaya Visual.

Sekarang ku akan sedikit membahas beberapa tema yang menarik bagiku:

1. Seni Rupa Kontemporer

Seni Kontemporer adalah perkembangan seni yang terpengaruh dampak modernisasi dan digunakan sebagai istilah umum sejak istilah Contemporary Art berkembang di Barat sebagai produk seni yang dibuat sejak Perang Dunia II. – Wikipedia Bahasa Indonesia

Dari pengertian oleh Wikipedia tersebut dapat disimpulkan bahwa Seni Rupa Kontemporer adalah semua seni yang dicipatakan seteah perang, setelah dunia mencapai kesepakatan untuk damai. Lalu kaitannya dengan pelatihan adalah kita akan diajarkan bagaimana menuliskan kritik terhadap seni-seni yang ada saat ini.

Semua orang bisa mengkritik secara subjektif tentunya, lalu apa yang akan diberikan dalam pelatihan nantinya?

Mungkin sebuah pandangan tentang seni kontemporer dan bagaimana seharusnya kita menilainya sehingga kritik yang kita ucapkan adalah kritik yang dihasilkan beradasarkan pemikiran seni yang telah kita ketahui sebelumnya, bukan kritik dari ke-sok-tahuan diri.

2. Budaya Visual Kota dan Seni Rupa Publik
Ini cukup menarik, karena yang ada dipikiranku adalah tentang seni urban yang dianggap ‘keren’ sekaligus ‘sampah’ bagi beberapa kalangan masyarakat. Contohnya seperti: graffiti. Entah apakah kubenar dalam hal ini atau tidak, kita kan liat penjelasan lengkapnya saat pelatihan.

3. Penulisan kritik
Tiga dari tujuh tema yang akan diberikan adalah pengantar dan cara memberikan kritik. Mungkinkah masyarakat umum kebanyakan tidak bisa memberikan kritik? Ataukah mengkritik sebuah seni ada aturan mainnya.

Yang pasti, sepertinya pelatihan ini didesain sebagai media pembelajaran dan kampanye social terhadap masyarkat umum secara khususnya para peserta untuk melihat seni dan mengkritiknya dengan benar.

Ya! Menurutku bidang seni adalah bidang yang tak dimengerti semua orang namun semua orang dapat mudah berkata ini adalah seni. Bahkan diriku sering sekali melihat sesuatu sebagai seni walaupun ku tak tahu apa arti sebenarnya dari seni tersebut.

4. Seni, Sosial dan Politik
Mengapa seni harus dikaitkan dengan social dan politik?

Bukankah seni adalah bidang yang jauh dari nilai social dan politik, tapi aku belakangan ini pun melihat seni dipakai demi kepentingan social dan politik dari beberapa blog dan event-event social yang menciptakan kegiatan dengan menyisipkan kegiatan seni didalamnya.

Kalau kita perhatikan pula di Taman-taman kota Jakarta, dapat mudah kita liat patung-patung bercita rasa seni tinggi yang menjadi hiasan. Taman kota sebagai tempat social masyarakat dan patung seni telah digabungkan dalam satu tempat public dimana semua orang dapat menikmatinya. Dalam hal ini berarti seni dan social dapat dikaitkan secara positif.

Lalu bagaimana dengan politik?

Politik bagai pisau bermata dua, bila dimanfaatkan baik maka manfaatnya akan dirasakan semua orang tapi sebaliknya mungkin hanya segilintir orang (koruptor) yang menikmatinya. Fungsi seni terhadap politik mungkin sebagai penetralisir, sebagai medium antara politik dengan masyarakat.

Kita bisa membuat lukisan yang menggambarkan keadaan kota Jakarta dengan tujuan membangkitkan rasa semangat benahi Jakarta bagi yang melihatnya, kemudian rasa semangat tersebut berubah dan terakumulasi menjadi kekuatan dasar politik yang menentukan nasib kota Jakarta.

Apakah hubungannya seperti itu? Sangat menarik untuk diketahui lebih lanjut saat pelatihan nantinya.

Trims.

Inspirasi lainnya: