Menjadi Orang Teknis atau Sosial?

Salam,

Sewaktu masih SMA, aku belajar ada pendapat bahwa di dalam perusahaan; divisi keuangan selalu bertolak-belakang dengan divisi pemasaran. Orang keuangan ingin lakukan pengiritan tapi orang pemasaran terus lakukan promosi (pengeluaran) berbiaya tinggi.

Dan aku akui pendapat tersebut benar pada masanya, karena saat ini divisi pemasaran tak lagi menjadi bagian perusahaan yang hanya bisa berfoya-foya.

Setelah bertahun-tahun bekerja di berbagai macam perusahaan digital, aku pun mendapat sebuah pendapat (atau masalah?) baru tentang orang teknis dan orang sosial. Pekerja teknis selalu bertolak belakang pemikiran dengan orang sosial, dan hal ini bukan hanya pada sisi operasional kerja tapi menjalar pada sisi sosial antar pekerja.

Para pekerja teknis atau kalau boleh kusebut geek ini berseteru dengan pekerja sosial (non-geek), mulai dari siapa yang lebih dominan hingga soal jenjang karir dan upah kerja. Atas dasar permasalahan tersebut, melalui tulisan ini aku mencoba berpendapat menanggapi hal tersebut.

Teknis dan Sosial, Siapa Lebih Unggul?
Jika bicara pada konteks dalam manajemen perusahaan maka sosial lebih unggul. Menurut Robert L. Katz pada tulisannya “Skills of An Effective Administration di Harvard Business menyebut sebuah teori yang juga kupelajari saat kuliah di Kampus UNJ.Melalui diagram di bawah telah menjelaskan bahwa keahlian konseptual lebih mendominasi dibanding teknis pada tingkat manajemen tertinggi. Ingat, kita bicara pada konteks manajemen perusahaan. Tapi aku berpendapat pada konteks bernegara pun, seorang presiden sangat perlu berpikir konseptual dan mempercayakan hal teknis pada orang lain.Catatan: Entah bisa disamakan atau tidak, tapi aku berpendapat keahlian konseptual (strategis) berakar dari keahlisan sosial sehingga bisa disama-artikan.

Lalu Katz melakukan penyesuaian pada teorinya, ia menyebut bahwa keahlian teknis pun sama diperlukan seperti keahlian konseptual oleh manajer senior pada skala perusahaan kecil (startup). Pengecualian tersebut mungkin terjadi dikarenakan keterbatasan jumlah SDM yang bekerja di perusahaan startup tersebut.

Namun, jika sebuah perusahaan telah berdiri dengan struktur kompleks dan SDM mencukupi maka posisi manajer senior atau CEO (Chief Executive Officer) mutlak membutuhkan keahlian konseptual yang dominan.

Perlukah Belajar Teknis?
Jika secara teoritis telah menunjukkan sosial (konseptual) lebih diperlukan pada manajemen tertinggi, maka apakah pengetahuan teknis menjadi tidak penting? jawabanku perlu.

Simpel saja. Dalam kehidupan manusia, kita merangkak dari bawah. Begitu pula dalam jenjang manajemen perusahaan, kita memulai dari bawah dengan mempelajari hal teknis dan kemudian berangsur-angsur belajar berpikir strategik dan konseptual. Dengan kata lain, menjadi sosial adalah mutlak dilakukan oleh mereka yang ingin mencapai tingkat kehidupan yang lebih.

Jika ingin bicara tentang upah kerja, maka seorang pekerja teknis (misal: programmer) dan pekerja sosial (misal: marketer) sekalipun tetap mesti belajar bagaimana berpikir konseptual; memimpin tim, membuat rencana strategik, dan lain-lain kalau memang tidak mau meninggalkan ngoding.

Bahkan dalam bidang pekerjaan apapun, mutlak diperlukan belajar bagaimana berpikir konseptual jika ingin terus menambah pendapatan. Seseorang animator terkenal pun tidak akan melulu menggambar, ada kalanya dia serahkan pekerjaannya (teknis) pada orang lain.

Seorang founder perusahaan pun, jika dia terlahir dari pendidikan teknis maka mau tidak mau dia mesti belajar bagaimana cara merekrut karyawan, mengatur keuangan, merancang proposal bisnis yang skalanya strategik.

Sebut saja apa pekerjaanmu saat ini, dan aku bertanya; mau melakukan itu terus selama puluhan tahun?

Iklan Sony berikut bisa jadi contoh yang menjelaskan bagaimana pekerja teknis & sosial bekerjasama:


Semoga menginspirasi. Terima kasih.

Inspirasi lainnya: