Pengalaman Jalan Kaki dari Depok-Mampang (20KM)

Salam,

Kemarin malam 22/06/13 tiba-tiba terpikir untuk berjalan kaki dari Depok ke Mampang, ide ini muncul sebenarnya dari beberapa hal:

  1. Dua minggu terakhir aku belum berolahraga, sedangkan esok paginya mau ikut Jakarta International 10K (ajang lari 10 kilometer).
  2. Termotivasi dengan kisah teman yang berjalan kaki dari Jakarta ke Bandung selama 2 hari.
Karena dua hal tersebut akhirnya aku putuskan untuk coba hal yang belum pernah kulakukan. Tidak pikir panjang langsung kupersiapkan baju ganti, sepatu dan berangkat pamit. Menurut catatan dari Endomondo, aku mulai jalan kaki dari Depok pukul 10:06 PM dan sampai di Mampang 3 jam 18 menit setelahnya.

Ya! memang antara kilomter 13-14 (sekitar kampus ISIIP sampai Pasar Minggu) dan 15-17 (Pasar Minggu sampai Kalibata) aku naik omprengan dan mikrolet agar temanku tak terlalu lama menunggu di Mampang.

Depok

Rumahku memang ada di pedalaman jauh dari jalan raya sehinga jalan kaki sudah jadi kebiasaan sejak kecil walau sekarang lebih sering naik sepeda kayuh dan motor. Aku sengaja memilih masuk lewati gang pemukiman untuk menuju jalan Margonda karena faktor keamanan dan sekaligus ingin tahu saja.

Menyusuri jalan yang belum kita ketahui itu menarik lho apalagi jalan kecil kampung/perumahan yang tak mungkin disusuri pakai motor/mobil karena tak diperbolehkan lewat. Jalan kaki atau naik sepeda menurutku satu-satunya cara menyusuri tempat yang bahkan bukan jalan umum. Toh, kita bisa berkilah bila dilarang karena kita gunakan sepeda hehehe

Mari Bung! berjalan kaki malam ini. pic.twitter.com/RtlezVou68
— Amal Agung Cahyadi (@akhmadamal) June 22, 2013

Diluar perkiraan ternyata jalan kaki dari rumah ke Margonda butuh waktu 1 jam lebih, padahal gowes sepeda santai cukup 30 menit. Tapi menyusuri margonda paling menarik, karena dapat memperhatikan lebih detil semua muda-mudi dengan kegiatannya yang bermacam-macam. Dan juga melihat kegiatan bisnis sepanjang margonda seperti Roti Bakar Edi yang baru aku lihat kemarin.

Aku setuju dengan maksud dari perkataan Mas Aan; semakin lambat kita berjalan maka semakin banyak yang kita lihat; maka semakin banyak inspirasi dan pengalaman yang dapat kita terima.

Karena alasan jarak, aku memotong masuk ke UI dan berjalan sampai gerbang utama dan langsung menuju arah Pasar Minggu. Sesampainya di halte UI arah Ps.Minggu, lalu pikiran galau diteruskan naik taksi atau tidak mengingat temanku sudah beri kode untuk ‘cepetan’ tapi tetap kulanjutkan berjalan kaki.

Sialan! Ada cowok mukul ceweknya di pinggir jalan walau dari teriakannya dia diselingkuhin.
— Amal Agung Cahyadi (@akhmadamal) June 22, 2013

Tiba-tiba di sekitar kampus Pancasila ada sepasang setengah baya berhenti sekitar 100 meter di depanku dan adrenalinku langsung memuncak! setelah sekian lama aku memperhatikan akhirnya mereka pergi sambil sang wanita berteriak-teriak. Satu momen yang jarang kutemui.

Ternyata jalan kaki itu capek fisik dan berlari itu capek mental. Itu hal yang kupelajari saat telapak kaki mulai tak nyaman namun pikiran ingin percepat langkah. Berbeda saat berlari, hati ingin berhenti walau sebenarnya kaki masih kuat melangkah.

Gak enak ditungguin @HUB_N_THUG akhirnya nge-pur naik omprengan. pic.twitter.com/wQPxjUslOO
— Amal Agung Cahyadi (@akhmadamal) June 22, 2013

Setelah melewati ISIIP sambil berjalan aku bertemu dengan omprengan dan langsung saja kuberhentikan dan menumpang hingga terminal Pasar Minggu. Kemudian karena tak ada bis yang menuju Mampang, aku berjalan lagi hingga 1KM menuju kalibata sebelum naik mikrolet sampai Kalibata.

Sesampainya di pertigaan Kalibata waktu sudah menunjuk 01:00 dini hari dan sudah tak ada lagi kendaraan umum bisa mengantar hingga Mampang. Dengan terburu-buru akupun berjalan menyusuri jalan Duren Tiga, sesekali bertanya pada supir mobil pickup di pinggir jalan untuk ikut nebeng tapi tak ada yang searah.

Mampang

Di kilometer terakhir ini aku mulai merasakan susahnya berjalan kaki, ditambah dengan geografis jalanan yang naik dan turun. Dan akhirnya aku sampai di Mampang, ditandainya dengan jembatan halte Duren Tiga yang kulewati sebagai tangga terakhir!

Tangga terakhir ! pic.twitter.com/tWbcyLirdt
— Amal Agung Cahyadi (@akhmadamal) June 22, 2013

Walau awalnya aku berjalan tanpa tujuan yang berarti, tapi aku yakin pengalaman ini dapat menjadi refleksi di masa depan. Setidaknya aku dapat lebih mawas diri terhadap semua orang yang bekerja dengan berjalan kaki atau mengayuh sepeda sepanjang hari.

Tengkiu berat! Buat @HUB_N_THUG yg hampir begadang nungguin & sediakan tempat tidur.
— Amal Agung Cahyadi (@akhmadamal) June 23, 2013

Aku percaya hanya dengan merasakan apa yang mereka rasakan dapat membuatku lebih bijak menanggapi masalah. Semoga cerita ini dapat menginspirasi kalian untuk lebih merasakan apa yang orang lain rasakan, bukan memaksa mereka merasakan apa yang kita rasakan.

Terima kasih.

NB: Karena efektif tidur setelah subuh, akhirnya kubatalkan ikut Jakarta International 10K.

Inspirasi lainnya: