Tertular Kebiasaan Karena Perasaan

Ini bukan tulisan galau, melainkan curahan perasaan karena seseorang. 

Bukan karena hati tersakiti, melainkan akal yang telah terinspirasi.

Belum pernah ada seseorang yang bisa menginspirasi sebesar yang dia lakukan. Tanpa sadar dia sudah mengubahku dalam cara menyelesaikan masalah, cara berkomunikasi, cara berpikir, cara menulis dan cara melihat perasaan seyogyanya.

Hidup ini memang penuh petualangan yang mesti kita rasakan sendiri, dan hal itu hanya mungkin terjadi saat kita membuat keputusan untuk melangkah. Seperti yang dikatakan Steve Job dalam pidatonya di Standford, dia katakan bahwa kita hanya bisa melihat ke belakang dan menghubungkan garis momen (connecting the dots). Titik keputusan.

Kepribadian kita dibentuk oleh semua keputusan yang kita buat dimasa lalu. Inilah yang membuat tiap manusia mempunyai jalan hidup yang berbeda-beda, tentang dampak keputusannya semua kembali pada pribadi masing-masing karena tiap manusia punya pola pikir berbeda dimana itu dibentuk oleh pengetahuan/ilmu yang didapatnya selama hidup.

Ilmu dapat mengubah seseorang.

Tiap karakter manusia secara alamiah memang didapat dari perpaduan orang tuanya, tapi semasa remaja karakternya berubah seiring ilmu yang didapatnya. Maka tak heran seseorang dari jenjang pendidikan yang berbeda dapat dengan mudah kita bedakan.

Diri ini pun sudah berubah sekarang, bukan seperti yang dulu. Bisa kalian lihat dengan caraku menulis, caraku memilih kata serta caraku meramaikan linimasa. Menulis menjadi sesuatu yang penting setelah membaca, dan ini karena dia. Jangan salahkan dia bila kata-kataku makin tidak bermakna :p

Kisah ini belum berakhir, tak akan.

Karena perasaan, aku tertular kebiasaan dan kuanggap ini anugrah Tuhan.  

Tulisan ini adalah bagian dari “Cinta Kali Ini”, sebuah realita kehidupan yang entah berakhir seperti apa. Kepo linimasa @akhmadamal untuk abstraksi lebih nyata dari cinta terbarukan.

Inspirasi lainnya: