Yang Kupelajari Setelah 2 Bulan Jadi Pengangguran

Ini bukan pengalaman pertamaku. Sekitar setahun lalu aku telah memutuskan berhenti kerja di Traveloka, lalu menganggur sekitar 30 hari. Namun, baru di kali kedua, aku merasakan sesuatu yang tak pernah ada selama lebih dari 6 tahun bekerja di berbagai perusahaan teknologi.

Sebagai karyawan, aku menjalani prinsip menilai pemimpin ketimbang perusahaannya. Dengan kata lain, aku percaya dengan visi pemimpinnya dan berkenan membantu perusahaan menyelesaikan masalah dunia. Kenyamanan tempat bekerja dan keamanan finansial yang kuterima adalah efek samping dari jabatan. Aku pun diharapkan datang ke kantor pada hari dan waktu tertentu. Pikiranku dibuat selalu sibuk untuk menyelesaikan masalah. Bahkan tak sedikit karyawan yang menyibukkan dirinya bekerja sebagai kegiatan akhir pekan.

Bisa bayangkan apa yang hilang ketika berhenti jadi karyawan?

Setidaknya ada dua pilihan setiap aku bangun tidur sebagai pengangguran:

  1. Bekerja
  2. Tidak bekerja

Jawaban mudah bagi mereka yang berstatus karyawan. Apalagi ketika bangun di Sabtu/Minggu pagi. Bagi pengangguran, pertanyaan itu adalah momok.

Setelah berminggu-minggu “hanya” di rumah, bangun tidur di Sabtu pagi tak berbeda dengan hari kerja, malam Minggu tak lagi semenarik malam lainnya, tanggal merah pun bukan lagi hal yang ditunggu-tunggu.

Bahkan ketika keinginan bekerja itu ada, tetapi tidak dilengkapi dengan arah hidup, semua sia-sia. Ini seperti anak SMA yang bingung memilih jurusan kuliah. Hanya saja, kondisi ini akan berpengaruh pada kepuasan batin dan taraf ekonomi seseorang di masa depan.

“How a life should be” diagram.

Aku seakan bisa berempati pada mereka yang berkali-kali melamar kerja tetapi belum mendapat panggilan. Aku pun menjadi salut pada mereka yang berani meninggalkan gaji bulanan untuk memulai usahanya sendiri.

Mereka para pengusaha dan pendiri startup, buatku seperti seorang pengangguran yang setiap hari memilih bekerja.

Walaupun pilihan telah dibuat, tekanan mental pun bisa datang karena apapun, sehingga mengganggu fokus dan keyakinan diri. Apakah usaha yang dirintisnya berada di jalur yang tepat dan mampu menghidupinya di masa depan? Aku kenal seorang pendiri startup yang mungkin hanya bisa menyambung hidupnya dari bulan pertama ke bulan berikutnya. Beliau begitu motivatif dan mempertahankan perusahaannya, bahkan ketika startup lain di industri yang sama gulung tikar.

Mereka yang memilih bangun untuk “bekerja” mengembalikan status sebagai karyawan pun patut diapresiasi. Apalagi jika mereka terus memperbaiki citra dan kualitas diri, memoles karakter agar pantas tergabung di perusahaan impiannya.

Dengan beragam penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pilihan “bekerja” di sini adalah sebuah keputusan mental, sehingga tidak bisa diartikan secara harfiah. Mungkin aku yang pernah menjadi karyawan, pernah memilih “tidak bekerja” walau raga berada di kantor.

Beberapa orang mungkin merasa tertipu dengan istilah “pengangguran” yang kupakai. Kita merujuk pada definisi yang sama kok. Pengangguran, orang yang tidak memiliki pekerjaan.

Yang kupelajari selama tak memiliki pekerjaan adalah pekerjaan bukanlah jabatan melainkan pemikiran dan aksi nyata. Hanya saja, aksi nyata apa yang menguntungkan diri secara finansial?

Apa aksi nyataku?

Sejak dua tahun terakhir aku tertarik mempelajari perkayuan. Setiap hari selama dua bulan silam, aku memperkaya diri dengan ilmu pertukangan secara otodidak. Aku pun mulai memahami sifat dan istilah dalam bisnis industri kayu. Dua kali aku mendapat kepercayaan membuat mebel kayu. Walau keuntungannya belum mampu menghidupi keluargaku, setidaknya cukup menambah runway hingga beberapa minggu ke depan.

Semoga bermanfaat.

Inspirasi lainnya: