Yang Terpendam Dalam JKT48

Salam,

Sebuah histeria baru dari fenomena lama, hadirnya sebuah kelompok penyanyi dan penari wanita yang dikumpulkan menjadi satu; mereka bilang bukan girlband tapi idol group. Entah dimana bedanya..

‘sesajian’ untuk sang idola.

Kenapa aku sebut fenomena lama?
Karena sebuah kelompok nyanyi sudah hadir sejak lama, yang paling aku ingat itu ya Westlife, Spicegirl, The Moffat, Backstreet Boy. Kalau dari dalam negeri ada grup ME yang salah satu anggota itu Indra Bekti.

Konsep bisnis musiknya sih sudah lama ada tapi kini telah berevolusi; coba lihat MTV jaman 90-an dan bandingkan dengan sekarang. Di jaman digital saat ini, distribusi musik(audio/video) lebih merata dan tersebar di banyak channel.

Internet adalah salah satu penyebabnya. Youtube adalah salah satu channel promosi video musik, Ring Back Tone bahkan katanya jadi sumber pendapatan utama tiap seniman musik, sampai-sampai KFC yang berbisnis pada ranah makanan cepat saji pun merambah ke distribusi penjualan CD musik.

JKT48 generasi pertama.

Nah, sekarang ada lagi yang dikenal JKT48. Aku melihatnya bukan sebagai penikmat musik tapi dari sudut pandang seorang pemasar. Harus diakui, JKT48 bukan sekedar kelompok nyanyi yang ingin berkarya tapi juga sebuah bisnis; yang sangat menarik perhatianku.

Korporasi 48 ini dimulai oleh Yasushi Akimoto di Jepang dengan nama AKB48 dan kemudian menjadi ‘perusahaan’ multinasional dengan dibentuknya JKT48. Di Jepang sendiri pun ada beberapa cabang regional yang telah dibentuk:

Biasanya orang akan terkejut setelah tahu bahwa anggota JKT48 berjumlah 48 orang (saat ini jumlahnya lebih dari 70 orang), bagaimana mereka membagi komisi tiap member? Tenang, mereka pasti tidak sembarangan mengambil 48 orang sebagai member. Menurutku inilah rahasia sukses bisnisnya.

Di tiap wilayah, misalnya JKT48 memiliki sebuah panggung teater yang memiliki pertunjukan hampir setiap hari. Mungkin teater adalah sumber utama pendapatan mereka, dengan pertunjukan hampir setiap hari tentunya butuh banyak SDM. Maka tak mengherankan kalau JKT48 punya 48 member.

Jakarta JKT48 Theatre di FX Mall, Sudirman – Jakarta.

Selain teater, pendapatan mereka datang dari penjualan merchandise. Mereka menjual beberpa photo-pack member dengan harga tertentu, bahkan aku sempat menanyakan sendiri pada salah satu fansnya dan mereka mengaku telah menghabiskan sekitar 1 juta rupiah untuk merchandise JKT48.

Yang membuat cantik anggota JKT48 bukanlah wajahnya tapi citra merek JKT48 itu sendiri.
— Amal Agung Cahyadi (@akhmadamal) February 5, 2013

Ini salah satu hal yang kukagumi dari bisnis orang Jepang ini, mereka sangat berhati-hati dan konsisten dalam menjaga citra JKT48. Walau menurutku terlalu berlebihan, misalnya me-reset seluruh akun para member di Internet setelah bergabung di JKT48.

JKT48 sungguh memanfaatkan media sosial secara penuh; bayangkan saja tiap member mempunyai akun Twitter dengan puluhan ribu follower, setiap kegiatan resmi JKT48 didokumentasikan lewat Youtube. Bukan sekedar itu, terlihat mereka punya content-planner di media sosial; setidaknya template yang dipakai setiap member.

Mereka menyebut JKT48 bagai sebuah akademi, setiap anggota dianggap sedang belajar dan suatu saat mereka akan ‘graduate’ atau keluar dari sana. Menurutku penggunaan analogi akademi ini cukup cerdas karena kata ‘diluluskan’ punya persepsi positif dibanding ‘dikeluarkan’.

Kita baru bahas cara bisnis JKT48, belum soal fansnya yang sangat luar biasa loyal. Fans JKT48 memang unik, bahkan sampai pada tahap yang tak bisa dimengerti orang biasa 😀

Kakak-kakak jomblo permanen -_-
Tarian khas yang selalu mereka lakukan.

Bukan hanya sisi eksternal, di internal JKT48 pun terencana dengan baik. Mohon koreksinya: JKT48 tediri dari grup J, K dan T. Setiap grup memiliki satu kapten, dan JKT48 memiliki satu orang ‘center’. Setiap member berhak memperebutkan posisi kapten dan center tersebut. Konon hal inilah yang membuat Cleoptra ‘graduate’ dari JKT48.

Cleopatra yang telah ‘graduate’ dari JKT48.

Satu hal yang selalu membuatku salut dari Jepang adalah kekompakan(jika bukan nasionalisme). Jika kamu perhatikan JKT48 mulai merangsek masuk ke industri hiburan Indonesia melalui media MNC Group; merchandise-nya dikelola oleh Rakuten; agensi yang mengatur JKT48 pun Dentsu. Mereka adalah korporat yang berbendera Jepang! MNC-nya bukan Jepang sih..

Sebutkan semua merek yang pernah dibintangi oleh JKT48, kamu akan sadar kalau semuanya adalah perusahaan Jepang!

Aku bukan penggemar fanatik mereka, tapi aku sangat menyukai cara mereka berbisnis. Seandainya Indonesia mampu seperti itu, bukan tidak mungkin kita akan berjaya.

Ah~ tulisanku pun sudah terlalu panjang, lebih baik kita kembali ke meja belajar dan selesaikan pekerjaan.

update:
Ada survey menarik yang dilakukan mas Pitra lewat Twitter tentang JKT48, silakan disimak:

Terima kasih kepada tim JKT48stuff.com yang telah menerjemahkan tulisan ini ke dalam bahasa Inggris, silakan baca tulisannya di Compilation: JKT48 in Business and Marketing Perspective.

Apa argumenmu tentang ini?

Inspirasi lainnya: