Pengalaman Buruk Bekerja di Perusahaan Startup

Salam,

Tak terasa hampir setahun sejak tulisanku terdahulu yang membahas pengalaman baik bekerja di startup company, sekarang aku akan memenuhi janjiku dengan berbagi pengalaman buruk yang kudapat selama bekerja di perusahaan startup.

Harus diakui, tak selamanya bekerja di perusahaan startup itu menyenangkan. Jika dibanding dengan perusahaan yang sudah mapan atau multinasional, startup memiliki banyak hal yang membuat kita kecewa. Karena memang semua orang yang bekerja di perusahaan startup adalah orang gila!

Catatan: Aku pernah bekerja pada perusahaan bukan startup.

Baiklah, mari kita mulai saja; ini dia 5 pengalaman buruk yang dapat terjadi jika bekerja perusahaan startup:

1. Tidak Ada Deskripsi Pekerjaan
Aku pernah diminta secara pribadi untuk membantu sebuah startup berbasis komunitas, dan salah satu pertanyaan yang dilontarkan kepadaku adalah “Kamu biasa kerja tanpa job desc, kan?”.

Betul sekali, aku terbiasa bekerja tanpa deskripsi kerja yang jelas; tapi bukan berarti tidak jelas di mana posisiku dalam perusahaan. Hanya saja kita harus bekerja penuh inisiatif karena tipikalnya perusahaan yang baru berdiri memiliki masalah pada SDM, sedangkan banyak hal yang perlu diatur.

Jika kamu tipikal pekerja yang tidak suka bekerja melebihi jam kerja atau perjanjian kerja, maka bekerja di perusahaan startup adalah mimpi burukmu.

2. Besarnya Resiko Bangkrut
Tidak ada yang dapat memastikan sebuah perusahaan yang baru berdiri dapat bertahan setidaknya hingga tahun depan. Bukan tidak mungkin, perusahaan tempatku bekerja saat ini tidak akan seperti sekarang jika tidak mendapat dana talangan dari orang Jepang.

Banyak contoh perusahaan startup Indonesia yang tutup karena kehabisan dana atau alasan lainnya, padahal dilihat dari luar tampak tidak ada masalah. Yaa… karena masalah sebenarnya biasanya berasal dari manajemen perusahaan. Seperti di poin pertama, masalah perusahaan startup adalah SDM; mereka butuh pekerja ahli tapi tidak mampu membayar mahal.

Tambahan untuk menghindari salah tafsir:
Supaya lebih objektif dan tidak menyerang satu pihak saja. Aku akan mengambil contoh Sedapur, Multiply dan Koprol; mungkin bukan lagi disebut startup tapi mereka adalah contoh yang cukup ideal untuk menggambar poinku di sini.

Kalimat ini seyogyanya sangat bermakna positif:
Jangan pernah melirik perusahaan startup jika kamu butuh kepastian kontrak kerja jangka panjang dengan bayaran tinggi. Jangan!

3. Gaji Kecil
Mungkin ini hanya terjadi padaku saja ya, karena gaji memang urusan masing-masing dan kepiawan kalian bernegosiasi sih.

  1. Ada seorang teman yang bekerja dengan gaji sekian, kemudian dia pindah ke perusahaan nasional dengan gaji lebih tinggi 3 kali lipat. 
  2. Temanku lainnya, bekerja hampir setahun; berencana pindah tapi kemudian ditawarkan gaji lebih tinggi dengan catatan wajib bertahan setahun lagi padahal gajinya pun tidak seberapa. 
  3. Ada lagi teman digaji mungkin di bawah rata-rata industri tetapi dijanjikan akan diberikan saham perusahaan sebagai kompensasi gajinya yang kecil tentunya.

Ini adalah pujian bagi mereka pekerja startup:
Ketiga temanku tersebut punya masalah yang sama saat bekerja di perusahaan startup. Kalian tahu alasannya dan jika tetap ingin bekerja di startup maka kalian betul orang gila!

4. Buruknya Manajemen Sumber Daya Manusia
Bekerja di perusahaan startup itu sudah seperti perusahaan keluarga sendiri karena tipikalnya orang yang bekerja di dalamnya sudah saling mengenal sejak bangku universitas atau mungkin teman satu tongkrongan.

Kalian tahu kenapa seperti itu?
Karena perusahaan startup masih terlalu ‘pelit’ untuk mengeluarkan dana di bidang SDM atau membentuk divisi HRD (Human Resource Department). Itu baru soal rekrutmen, belum soal politik kantor yang kotor.

Sehingga jangan kaget jika saat kalian memutuskan bekerja di perusahaan startup lalu menemukan ada pekerja yang keluar karena konflik internal; yang mestinya bisa diselesaikan dengan baik tapi tak terselesaikan karena tidak adanya HRD atau tidak mampunya mereka. Maklum, anak baru (baru berdiri).

5. Tidak Ada Mentor
Tidak ada jaminan di perusahaan multinasional pun akan ada mentor yang mengajari kita dalam bekerja tapi setidaknya kita bisa belajar bagaimana bekerja dengan standar industri (sistem).

Maksudnya begini, di perusahaan startup belum ada sistem kerja yang jelas sehingga maklum jika tidak ada deskripsi kerja, bagian HRD ataupun karyawan senior yang dapat mengajari bagaimana kita seharusnya bekerja.

Noah Kagan di blog pribadinya menulis bahwa ada tiga tipe pekerja dalam sebuah perusahaan:

  1. Grow-er; seseorang yang membangun perusahaan sejak kecil (startup) dan mengadaptasikan kemampuannya sesuai kebutuhan perusahaan yang semakin besar.
  2. Show-er; seseorang yang bermanfaat untuk perusahaan saat tersebut tapi tujuan pribadinya tidak sesuai dengan visi & misi perusahaan.
  3. Veteran; seseorang yang berpengalaman dan dapat mengajarkan pada lainnya bagaimana membangun perusahaan startup.
Dari ketiga tipe tersebut, hanya sedikit para Veteran yang mau bekerja di startup sehingga kita adalah seorang Grow-er atau mungkin hanya seorang Show-er. Bagus jika dirimu adalah seorang Grow-er sehingga dapat banyak belajar di perusahaan startup.

A good employee is working for a cause not an applause.
— Amal Agung Cahyadi (@akhmadamal) January 16, 2014

Semoga tulisanku ini memberikan pandangan lebih objektif pada semua persepsi bagi bekerja di perusahaan startup.
Terima kasih.

Inspirasi lainnya:

  • dila fadila

    Thank you for this useful information 🙂

  • Retno Wulandari

    Memang harusnya pendiri2 startup lebih memperhatikan kesejahteraan dan kebahagiaan karyawan juga, walaupun masih belum bisa bayar gaji gede.

  • Dwi Septia

    Suka sama ini banget:

    A good employee is working for a cause not an applause.

    Some people memang kerja untuk applause dan itu mengecewakan :”